The Secret Light of Jannatul ‘Adn: Where Love Was Born
Tatkala Allah Subanahu wa Ta‘ala telah menyelesaikan penciptaan Surga ‘Adn, tempat kediaman para kekasih-Nya, Dia memanggil malaikat Jibrīi ‘alaihis-salam dengan suara yang penuh keagungan dan kelembutan Ilahi:
“Wahai Jibril, pergilah engkau ke Surga ‘Adn dan lihatlah apa yang telah Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang taat, bagi kekasih-kekasih-Ku yang menjaga cinta mereka kepada-Ku.”
Maka bergetarlah seluruh sayap Jibril mendengar panggilan itu. Ia tunduk, menundukkan kepalanya dalam penuh adab, lalu menjawab dengan suara yang bergetar oleh rasa hormat:
“Sami‘na wa aṭa‘na, Ya Rabb.”
Dengan secepat kilat, Jibril terbang melintasi lapisan langit. Ia menembus tabir-tabir cahaya, melampaui hamparan rahmat, hingga tibalah ia di gerbang Surga ‘Adn sebuah tempat yang belum pernah disinggahi oleh pandangan, belum pernah terlintas dalam bayangan hati manusia mana pun.
Udara di sana bukan udara seperti di dunia, melainkan kesejukan yang memancarkan ketenangan. Sungai-sungai mengalir dengan bunyi zikir yang lembut; setiap tetes air menyebut nama Allah, dan pepohonan di sepanjang tepinya menunduk dengan penuh khusyuk. Dari setiap daunnya keluar cahaya hijau zamrud yang menenangkan jiwa, dan aroma kasturi tercium di setiap hembusan angin.
Jibril melangkah perlahan. Ia menatap sekeliling, mengamati taman-taman yang dipenuhi permata, istana-istana dari mutiara, dan hamparan karpet cahaya yang terbentang sejauh mata memandang. Dalam diamnya, ia merasakan getaran halus getaran cinta Ilahi yang menyelimuti seluruh tempat itu.
Tiba-tiba, dari salah satu istana yang terbuat dari yakut merah, muncul seorang bidadari. Ia berjalan anggun, seolah setiap langkahnya menulis kalimat pujian di udara. Wajahnya bercahaya lembut, namun memancarkan pesona yang tak terlukiskan. Ketika matanya menatap Jibril, ia tersenyum.
Dan pada detik itu Surga ‘Adn pun berubah terang benderang.
Cahaya senyumannya menembus taman-taman, mengalir di sungai-sungai, dan menyinari setiap helaian dedaunan. Bukan sekadar cahaya yang terlihat, melainkan cahaya yang dirasakan cahaya yang menyentuh kalbu dengan keindahan yang suci.
Malaikat Jibril pun terkejut. Sinar itu begitu lembut, namun menyilaukan jiwa. Tanpa sadar, ia tersungkur bersujud. Dalam keheningan Surga ‘Adn, suara tasbihnya bergema:
“Subḥanak, Subḥanak, Ya Dzal Jalal wal Ikram…”
Ia mengira sinar itu berasal dari Cahaya Zat Allah cahaya yang tak terjangkau oleh akal, tak tersentuh oleh pandangan. Namun ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat sang bidadari itu masih berdiri di hadapannya, senyumnya masih bersinar, dan Surga ‘Adn masih bergetar oleh cahaya wajahnya.
Jibril terdiam lama. Matanya memandang dengan penuh takjub. Dalam keindahan itu, ia melihat tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta bahwa bahkan secuil keindahan yang diciptakan oleh Allah mampu membuat langit dan bumi bergetar.
Dengan suara lembut namun penuh rasa kagum, malaikat Jibril berucap:
“Subḥanalladzi khalaqaki, ma ajmala khalqaki!”“Maha Suci Zat yang telah menciptakanmu. Betapa indah ciptaan-Nya padamu!”
Sang bidadari menunduk penuh adab, lalu berkata dengan suara yang lembut seperti aliran sungai di Surga:
“Wahai Jibril, aku diciptakan untuk hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya dalam sepi, yang air matanya jatuh bukan karena dunia, tapi karena rindu kepada Rabb mereka.”
Mendengar itu, Jibril menunduk lagi. Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena takjub dan cinta. Di antara air matanya, ia menyadari bahwa setiap keindahan di Surga hanyalah cerminan dari Cinta Allah kepada mereka yang mencintai-Nya tanpa syarat.
Lalu ia kembali menghadap kepada Allah, bersujud di hadapan-Nya, seraya berkata:
“Ya Rabb, tidak ada yang bisa menggambarkan keindahan ciptaan-Mu kecuali Engkau sendiri. Betapa mulia balasan-Mu bagi mereka yang Engkau cintai.”
Dan Allah berfirman:
“Wahai Jibril, itulah sebagian kecil dari nikmat yang Kusiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang beriman.Jika engkau mengetahui apa yang Aku sembunyikan untuk mereka, niscaya engkau akan menangis karena kerinduan untuk menyaksikannya.”
🌷 Sungguh, siapa pun yang membaca kisah ini dengan hati yang hidup, akan merasakan desir cinta Ilahi yang sama cinta yang tidak akan pernah padam, bahkan setelah dunia ini sirna.

Posting Komentar untuk "The Secret Light of Jannatul ‘Adn: Where Love Was Born"