Ia Beribadah 220 Tahun, Namun Mati dalam Sujud kepada Iblis
Dalam kitab Al-Majalis As-Sunniyyah dikisahkan tentang seorang ahli ibadah besar bernama Barsisa, yang hidup pada masa Bani Israil. Seluruh hidupnya diabdikan untuk beribadah. Siang dan malam, tanpa henti, ia berdiri di mihrabnya, menangis di hadapan Allah, dan menundukkan diri dalam sujud panjang.
Konon, enam puluh ribu murid menimba ilmu darinya. Dengan keberkahan ibadahnya, para murid itu mampu berjalan di udara suatu karamah yang membuat dunia terperangah. Langit dan bumi seakan menjadi saksi kesucian amalnya.
Para malaikat pun takjub melihat ketekunan Barsisa. Mereka berbisik di langit,
“Wahai Rabb kami, tiada di bumi hamba seistiqamah dia dalam ibadah.”
Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Aku telah karuniakan kepadanya nikmat ketaatan, tetapi bukan surga-Ku.”
Seketika langit menjadi hening. Malaikat terdiam sebab hanya Allah yang mengetahui isi hati hamba-Nya.
Mendengar firman itu, Iblis terperanjat. Ia berkata dengan dendam yang membara,
“Demi keagungan-Mu wahai Rabbku, aku akan menjerumuskannya hingga ia tahu siapa dirinya.”
Maka Iblis turun ke bumi dengan rupa yang menipu wajah bersih, janggut putih, dan mata yang tampak penuh cahaya. Ia mengenakan pakaian ahli ibadah dan duduk di samping mihrab Barsisa.
Hari-hari berlalu. Iblis tidak makan, tidak minum, tidak tidur. Ia berdzikir terus menerus, berdiri tanpa henti dalam qiyam yang panjang.
Barsisa menatapnya dengan takjub. Hatinya bergetar.
“Wahai saudaraku,” katanya lembut, “aku telah beribadah selama dua ratus dua puluh tahun, namun belum mampu seperti engkau. Dari mana engkau mendapatkan kekuatan seperti itu?”
Iblis menunduk seolah rendah hati.
“Aku mencapainya,” ujarnya lirih, “karena aku berbuat dosa, lalu bertaubat. Bukankah Allah lebih mencintai hamba yang bertaubat daripada yang tak pernah berdosa?”
Kata-kata itu menancap dalam di hati Barsisa. Ia memikirkannya berhari-hari. Hingga akhirnya, benih was-was tumbuh dari celah kecil keangkuhan.
“Mungkinkah aku belum sempurna karena tak pernah merasakan taubat?”
Begitulah cara Iblis bekerja bukan dengan maksiat yang besar, tetapi dengan keraguan kecil yang tampak bijak.
Barsisa menolak saat Iblis menggodanya untuk berzina atau membunuh. Ia berkata,
“Dosa itu terlalu besar. Aku takkan melakukannya.”
Namun Iblis tahu: tembok tebal bisa runtuh oleh satu retakan kecil. Ia menyiapkan tipu daya halus. Ia membuat Barsisa haus dan lelah, hingga suatu malam disuguhkannya seteguk minuman keras.
Barsisa ragu, tapi bisikan itu datang:
“Sekali saja, hanya untuk menguatkan tubuhmu beribadah.”
Ia minum. Sekali. Lalu dua kali. Hingga mabuk dan kehilangan kesadaran. Dalam keadaan itu, ia tergelincir pada zina dengan seorang wanita. Ketika sadar, penyesalan membakar jantungnya namun belum sempat ia menebus dosa itu, suami wanita itu datang.
Ketakutan menutupi akalnya. Barsisa, yang dahulu disegani ribuan murid, kini terjerat dalam panik. Ia membunuh lelaki itu agar rahasianya terkubur bersama jenazah. Tapi darah tidak bisa berbohong; kejahatan itu terungkap ke seluruh negeri.
Barsisa dijatuhi hukuman salib. Di tiang tinggi, di hadapan orang banyak, tubuhnya terikat dan wajahnya pucat pasi.
Di saat itulah, Iblis menampakkan wujud aslinya hitam, menakutkan, penuh tawa sinis.
“Wahai Barsisa,” ujarnya dengan suara bergema, “aku bisa menolongmu. Sujudlah kepadaku, maka aku akan lepaskanmu dari hukuman ini.”
Dalam ketakutan, iman Barsisa goyah. Harapan dan keputusasaan berperang di dadanya. Ia menunduk, air matanya menetes di tanah. Lalu perlahan, ia menundukkan kepala sujud kepada Iblis.
Dan pada detik itu, ruhnya tercabut. Barsisa mati dalam kekufuran.
Langit pun bersaksi betapa satu langkah kecil menjauh dari Allah bisa menuntun ke jurang yang tak bertepi.
Hikmah dan Renungan
Kisah Barsisa adalah cermin bagi siapa pun yang merasa aman dengan amalnya.
“Jangan pernah tertipu oleh panjangnya sujud, jika hatimu masih bergantung pada selain Allah.”
Sungguh, sebanyak apa pun ibadah seseorang, ia tak akan selamat tanpa perlindungan Allah. Maka janganlah bersandar pada amal, melainkan mohonlah selalu hidayah dan penjagaan-Nya dari tipu daya setan.
“Ya Allah, jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami walau sekejap mata pun.”

Posting Komentar untuk "Ia Beribadah 220 Tahun, Namun Mati dalam Sujud kepada Iblis"